MENGENAL PENYAKIT IKAN HIAS WHITE SPOT (ICH) DAN CARA MENGATASINYA

Para hobbis tentunya sudah sangat kenal dengan masalah penyakit ikan yang satu ini. White spot atau dikenal juga sebagai penyakit "ich" merupakan penyakit ikan yang disebabkan oleh parasit. Penyakit ini umum dijumpai pada hampir seluruh spesies ikan. Secara potensial keberadaan white spot dapat berakibat mematikan bagi ikan kesayangan kita. Penyakit ini ditandai dengan munculnya bintik-bintik putih asing di sekujur tubuh dan juga sirip ikan.

Inang white spot yang bervariasi, siklus hidupnya serta caranya meperbanyak diri dalam akuarium, serta kesuaian dengan kondisi air dan aquarium memegang peranan penting terhadap berjangkitnya penyakit tersebut.

Tanda-tanda Penyakit Ikan Hias
White spot (Ich)
 
Tanda-tanda serangan white spot tergantung pada tahapan siklus hidupnya. Siklus hidup white spot terdiri dari beberapa tahap, tahapan tesebut secara umum dapat dibagi dua yaitu tahapan infektif dan tahapan tidak infektif (sebagai "mahluk" yang hidup bebas di dalam air atau dikenal sebagai fase berenang). Gejala klinis white spot merupakan akibat dari bentuk tahapan sisklus infektif. Ujud dari "white spot" pada tahapan infektif ini dikenal sebagai Trophont. Trophont hidup dalam lapisan epidermis kulit, insang atau rongga mulut. Oleh karena itu, julukan white spot sebagai ektoparasit dirasa kurang tepat, karena sebenarnya mereka hidup dilapisan dalam kulit, berdekatan dengan lapisan basal lamina. Meskipun demikian parasit ini tidak sampai menyerang lapisan di bawahnya atau organ dalam lainnya.

Ikan-ikan yang terjangkit akan menunjukkan penampakan berupa bintik-bintik putih pada sirip, tubuh, insang atau mulut. Masing-masing bintik ini sebenarnya adalah individu parasit yang diselimuti oleh lapisan semi transparan dari jaringan tubuh ikan. Pada awal perkembangannya bintik tersebut tidak akan bisa dilihat dengan mata. Tapi pada saat parasit tersebut makan, tumbuh dan membesar, sehingga bisa mencapai 0.5-1 mm, bintik tersebut dapat dengan mudah dikenali. Pada kasus berat beberapa individu dapat dijumpai bergerombol pada tempat yang sama.

Ikan yang terjangkit ringan sering dijumpai menggosok-gosokan tubuhnya pada benda-benda lain di dalam akuarium sebagai respon terhadap terjadinya iritasi pada kulit mereka. Sedangkan ikan yang terjangkit berat dapat mengalami kematian sebagai akibat terganggunya sistem pengaturan osmotik ikan, akibat gangguan pernapasan, atau akibat infeksi sekunder. Ikan berukuran kecil dan burayak dapat mengalami kematian setelah beberapa hari terjangkit berat.

Ikan yang terjangkit berat akan menunjukkan perilaku abnormal dan disertai dengan perubahan fisiologis. Mereka akan tampak gelisah atau meluncur kesana kemari dengan cepat dan siripnya tampak bergetar ( mungkin sebagai akibat terjadinya iritasi pada sirip tersebut). pada ikan yang terjangkit sangat parah, mereka akan tampak lesu, atau terapung di permukaan. Kulitnya berubah menjadi pucat dan mengelupas. sirip tampak robek-robek dan compang-camping. Insang juga tampak memucat. Terjadinya kerusakan pada kulit dan insang ini akan memicu ikan menglami stres osmotik dan stres pernapasan. Stres pernapasan ditunjukkan dengan pergerakan tutup insang yang cepat (megap-megap) dan ikan tampak mengapung di permukaan dalam usahanya untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. Apabila ini terjadi peluang ikan untuk dapat disembuhkan akan relatif sangat kecil

Penyebab white spot (Ich)

White spot disebabkan oleh parasit yang diberi nama: Ichtyophtirius multifilis. Parasit ini diketahui terdiri dari beberapa strain. Ichtyophtirius multifilis memiliki selang toleransi suhu lebar, oleh karena itu, penyakit white spot dapat dijumpai baik pada ikan-ikan yang hidup di air dingin maupun yang hidup di daerah tropis.

White spot dapat masuk kedalam sistem akuarium melalui ikan yang terjangkit, atau melalui air yang mengandung parasit pada fase berenang. Tanaman air dan pakan hidup dapat pula menjadi perantara white spot terutama apabila lingkungan hidup tanaman dan pakan hidup tersebut telah terjangkit white spot sebelumnya.

Air ledeng berkualitas baik jarang menjadi media penyebaran white spot. Diketahui bahwa fase berenang white spot hanya dapat bertahan hidup selama beberapa jam saja sebelum harus menempel pada inangnya. Oleh karena itu, biasanya mereka akan mati selama proses pengolahan air.

Pencegahan dan Perawatan

Tindakan karantina terhadap penghuni akuarium baru merupakan tindakan pencegahan yang sangat dianjurkan dalam menghindari berjangkitnya white spot. Pada dasarnya white spot termasuk mudah dihilangkan apabila diketahui secara dini. Berbagai produk anti white spot banyak dijumpai di toko-toko akuarium. Produk ini biasanya terdiri dari senyawa-senyawa kimia seperti metil biru, malachite green, dan atau formalin. Meskipun demikian, ketiga senyawa itu tidak akan mampu menghancurkan fase infektif yang hidup di dalam tubuh kulit ikan. Oleh karena itu, pemberian bahan ini harus dilakukan berulang-ulang untuk menghilangkan white spot secara menyeluruh dari akurium.

Perlu diperhatikan bahwa spesies ikan tertentu, khususnya yang tidak bersisik diketahui sangat tidak toleran terhadap produk-produk anti white spot, oleh karena itu, perhatikan cara pemberian obat-obatan tersebut pada kemasannya dengan baik

Perlakuan perendaman dengan garam dalam jangka panjang (selama 7 hari pada dosis 2ppt(part per thousand)) diketahui dapat menghilangkan white spot . Perlakuan ini hanya dapat dilakukan pada ikan-ikan yang tahan terhadap garam.

Akuarium sendiri dapat dibersihkan dari white spot dengan cara memindahkan selurah ikan dari akuarium tersebut. Pada lingkungan tanpa ikan sebagai inang, fase berenang dari whte spot akan mati dengan sendirinya. Pada akuarium dengan suhu diatas 21°C, akuarium akan terbebas dari white spot setelah dibiarkan selama 4 hari. Akan lebih aman lagi apabila akuarium tersebut dibiarkan selama 7 hari. Semua peralatan akuarium juga akan terbebas dari white spot setelah dibiarkan selama 7 hari.

Radiasi dengan sinar ultra violet dapat pula membantu mengurangi populasi white spot.

Dalam beberapa kasus dan secara teoritis, Ikan yang telah selamat dari serangan white spot diketahui akan memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut. Kekebalan ini dapat bertahan selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Meskipun demikian ketahanan ini dapat menurun apabila ikan yang bersangkutan mengalami stres atau terjangkit penyakit lain. Pada suatu serangan white spot sering dijumpai ada ikan dari jenis yang sama tidak terjangkit oleh white spot tersebut sama sekali. Hal ini merupakan salah satu petunjuk adanya fungsi kekebalan tadi.

Setiap jenis ikan memiliki tingkat kerentanan yang berbeda terhadap white spot. Dari sekian banyak spesies yang ada Botia macracantha merupakan salah satu spesies yang sangat rentan terhadap white spot.
   
Cara Mengatasi dan Pengobatan

Jika salah satu ikan anda terlihat ada yg terserang whitespot dengan tanda dan gejala-gejala seperti di atas, segera pindahkan ikan ke dalam aquarium karantina, namun jika anda tidak memiliki aquarium karantina, bisa ditaruh diaquarium atau tempat khusus yang terpisah, pasang pemanas (heater) dengan suhu 32 derajat, beri juga aerator udara, kasih obat anti whitespot bisa dikombinasi dengan garam ikan. Lakukan penggantian air setiap hari sampai ikannya sembuh.
 
Jika yg terkena white spot sudah cukup banyak,bisa langsung dilakukan pengobatan didalam squarium.pasang heater 32 derajat celcius, berikan obat anti whitespot sesuai disis yg dianjurkan. Lakukan penggantian air rutin setiap hari sebanyak 50% sampai ikannya benar2 sembuh. Angkat media filter carbon aktif jika anda menggunakannya,karena carbon dapat menyerap kandungan obat. Jadi filternya pake busa/kapas aja.

Paling cepat pengobatan biasanya 3-5 hari, paling lama biasanya 1 minggu, whitespot ditubuh ikan sudah bersih.
 
 Demikian gan, masbor dan sist, penggemar ikan hias peliharan, tentang penyakit ikan hias white spot atau Ich dan cara mengatasinya termasuk cara pengobatan ikan yang terkena penyakit white spot atau Ich tersebut, semoga bermanfaat. Terimakasih.          

Referensi:
http://o-fish.com/HamaPenyakit/ich.php
http://id.wikihow.com/Mengobati-Penyakit-Bintik-Putih-(Ich)-pada-Ikan-Tropis
https://ferboes.com/2013/10/02/ikan-terserang-whitespot-tenang-brosis-obatin-dulu-sebelum-terlambat/

CARA MERAWAT ANJING PUDEL YANG BAIK DAN BENAR

Anekapeliharaanhias---Peliharaan hias kali ini yang akan kita bahasa adalah Anjing Pudel, Anjing pudel atau poodle adalah anjing dari kelompok non-sporting atau utility yang di yakini berasal dari Prancis. Anjing poodle/pudel memiliki penampilan yang unik, berbeda dengan anjing seperti biasanya. Pudel merupakan anjing yang cerdas, menyenangkan, dan setia. Sifat-sifat ini berlaku untuk semua tiga ukuran pudel, Standard, Miniatur dan Toy. Terdapat beberapa jenis pudel, yaitu pudel Standar, Miniatur dan Mainan (Toy). Beberapa anjing pudel yang terkenal adalah Georgette dari Oliver & Company, Cleo dari Clifford the Big Red Dog, Barbara Ann dari Good Boy!, Fifi dari "Open Season 2" dan "Open Season 3" dan lainnya. Cara memelihara anjing pudel ternyata tidak mudah, diperlukan perawatan yang penuh kesabaran dan ketelatenan, terutama dalam masalah "groming" bulu anjing pudel ini.

Anjing Pudel
Anjing pudel adalah anjing yag berbulu keriting. Anjing pudel mempunyai berbagai macam warna, seperti putih, coklat, dan hitam. Anjing pudel biasa di pangkas rambutnya dan disisakan pada bagian kakinya, atas kepalanya, Dekat lehernya dan juga pada bagian pinggangnya. Anjing pudel betina mempunyai ekor yang pendek, sedangkan anjing pudel yang jantan mempunyai ekor yang panjang.

Anjing pudel sangat dikenal diseluruh dunia dikarenakan keunikan dan kepandaiannya. Walupun disebutkan berasal dari Perancis, namun anjing pudel juga dipercaya berasal dari Jerman atau Rusia. Anjing Pudel Standar (ukuran paling besar) dilatih agar bisa berenang serta mengambang di permukaan air hingga anjiing ini di peruntukan untuk water retriever atau mengejar hewan buruan dalam air. Tapi di Rusia anjing pudel standar justru dipakai sebagai penarik kereta susu.

Saat anjing pudel standar dibawa ke Prancis, saat itulah mulai dibiakaan ukuran yang lebih kecil yang disebut anjing pudel miniatur atau Mini Poodle dan anjing pudel toy atau Toy Pudel. Perkembangan anjing pudel toy amat pesat, Orang Eropa lebih menyukai toy pudel di sebabkan sifatnya yang baik dan bentuknya yang lucu, imut dan cantik. Bulu anjing pudel bisa dibentuk sesuai keinginan sang pemilik. Anjing pudel amat mudah dilatih hingga sering dipakai dalam pertunjukan sirkus di Eropa.

Anjing pudel mempunyai bentuk kepala bulat dengan moncong panjang, telinga menggantung ke bawah, ekor tegak lurus menghadap ke atas. Ada beragam bulu yang dipunyai oleh anjing pudel yaitu hitam, putih, coklat, abu-abu dan biru. Anjing pudel mempunyai sifat setia dan gemar bermain, Anjing pudel standar memiliki sifat yang lebih berani dibanding tipe anjing pudel lain yang agak pemalu.

Merawat Anjing Pudel

 
Perlunya Perawatan Bulu Anjing Pudel


Anjing pudel memiliki ke istimewaan tersendiri di bandingkan dengan anjing trah lain, yaitu anjing pudel tidak mengalami masa pergantian bulu seperti anjing ras lainnya. Bulu anjing pudel tumbuh di semua bagian tubuh hingga di dalam lubang telinga sekalipun. Diperlukan perawatan khusus terhadap bulu anjing pudel agar bisa tampil cantik, sehat dan terawat. Seperti perawatan berikut ini;
  • Bulu anjing pudel mesti disisir setiap hari, jika tidak maka akan menggumpal sebab bulunya tumbuh dengan cepat dan berguna untuk mengangkat bulu yang kurang sehat.
  • Bulu pudel yang tumbuh didalam lubang telinga hendaknya dicabut agar memudahkan pembersihan telinga.
  • Bulu di moncong, ujung kaki, leher bagian bawah, pangkal ekor mesti dicukur setiap 3 hingga 6 minggu sekali.
  • Anjing pudel dimandikan minimal satu minggu sekali.
  • Anjing pudel sebaiknya di pelihara di dalam rumah sebab bila dipelihara di luar rumah akan cepat kotor.
Cara memandikan dan merawat tubuh Anjing Pudel

Memandikan anjing pudel pada dasarnya hampir sama dengan cara memandikan anjing jenis lainnya, dengan catatan perlu diperhatikan dengan teliti masalah pembersihan bulu di bagian tertentu seperti berikut ini :

1. Kegiatan mandi terlebih dahulu diawali dengan pemotongan kuku, klik disini untuk proses potong kuku.

2. Gunting bulu yang ada di telapak kaki anjing. Bulu dibagian ini tumbuh pada anjing yang berbulu panjang, pada anjing berbulu pendek tidak tumbuh. Telapak kaki menjadi licin ketika bulu sudah menutupi seluruh telapak kaki. Pemotongan bulu telapak kaki harus dilakukan secara rutin pada saat anjing dimandikan.

3. Sama seperti bulu telapak kaki, bagian sekitar dubur anjing berbulu panjang juga harus dipotong bulunya agar kotoran tidak tersangkut dibulu apalagi pada saat anjing menderita diare. Kotoran yang tersangkut dibulu menyebabkan bau yang kurang sedap.

4. Pemotongan hanya disekitar dubur saja sehingga terlihat rapih dan higienis.

5. Sisir bulu anjing terlebih dahulu agar tidak ada bulu yang masih kusut pada saat dibasuh dengan air.
 
Setelah kegiatan penyisiran, sisir bagian yang harus dibersihkan adalah bagian telinga. Gunakan kapas dan alkohol 70% atau cairan khusus pembersih telinga yang banyak tersedia di pet shop.

1. Sediakan selembar kapas kosmetik dan jepit dengan menggunakan pinset.

2 & 3. Setelah itu gulung pinset dengan kapas. Besarnya gulungan disesuaikan dengan lubang telinga anjing. Lebihkan kapas diujung pinset agar ujung pinset tidak melukai telinga anjing.

4. Basahkan kapas dengan alkohol 70%. Jangan terlalu basah agar alkohol tidak masuk ke dalam gendang telinga. Untuk memastikan sebaiknya kapas diperas terlebih dahulu agar sisa alkohol bisa terbuang.

5. Bersihkan telinga dengan cara memutar pinset pada bagian yang kotor.
 
6. Agar lubang telinga terhindar dari masuknya air pada waktu memandikan anjing pudel maka kita perlu menyumbat lubang telinganya dengan menggunakan kapas.
  • Ambil kapas secukupnya dan buat seperti bola dengan ukuran sedikit lebih besar dari lubang telinga.
  • Masukan dengan menggunakan jari.
  • Gunakan pinset untuk memposisikan kapas lebih dalam dan pastikan kapas tidak terlepas pada saat anjing bergerak.
  • Posisi kapas tetap harus terlihat.

7. Jangan gunakan sprayer karena tekanan air yang keluar dari sprayer sangat tinggi sehingga dapat menyakiti anjing pada saat terkena bagian tubuh yang sensitif seperti hidung atau mata. 

8. Walaupun telinga sudah tertutup kapas, tekanan air dari sprayer juga masih bisa menembus.
 
9. Gunakan selang saja dan atur tekanan air. Mulai basahkan bagian badan agar anjing tidak kaget.
 
10. Lalu arahkan selang kebagian kepala. Pelankan aliran air pada saat membasuh bagian kepala.

11. Setelah seluruh badan basah, tuangkan shampo diseluruh bagian tubuh anjing hingga rata. Gunakan shampo yang memiliki formula tearless agar tidak perih dimata. Jika anda kesulitan mencari shampo tearless, anda dapat menggunakan shampo bayi untuk bagian kepala sedangkan bagian tubuh tetap menggunakan shampo yang diformulasikan untuk kulit anjing. 

12.Gosok seluruh bagian hingga shampo merata dan berbusa. Gunakan sikat halus agar kotoran mudah dibersihkan. Sikat halus dapat menggunakan sikat semir sepatu. Penggosokan harus searah yaitu dari kepala ke arah ekor. Jangan lupa untuk membersihkan bagian dubur dengan sikat halus karena bagian ini biasanya terdapat kotoran tinja kering.

13. Setelah selesai, bilas dengan air bersih. Sebaiknya proses pembersihan dengan shampo dilakukan dua kali agar bulu dan kulit benar-benar terbebas dari kotoran. Pastikan tidak ada shampo yang tertinggal karena dapat membuat kulit dan bulu rusak.
 
14. Bilas mulai dari kepala dan dilanjutkan bagian bawah terutama sekitar dada dan perut.
Keringkan anjing dengan menggunakan kain yang memiliki daya serap yang tinggi.

15. Keringkan anjing dengan menggunakan blower khusus untuk anjing. Jangan menggunakan hair dryer yang biasa digunakan oleh manusia karena udara panas yang dikeluarkan oleh hair dryer dapat membakar kulit dan bulu anjing. Jika anda tidak memiliki blower khusus anda dapat mengeringkan dengan cara alami yaitu dengan dijemur ditempat yang tidak terkena sinar matahari dan terdapat aliran udara.

16. Pada saat mengeringkan dengan blower, perhatikan apakah terdapat penyakit kulit atau kutu.

17. Setelah bulu anjing benar-benar kering, sisir dengan menggunakan sisir yang khusus untuk bulu anjing. Konsultasikan dengan pet shop langganan anda jenis sisir yang cocok untuk jenis bulu anjing anda.
 
Sekian, demikian cara merawat anjing pudel yang baik dan benar, semoga bermanfaat, terimakasih.

Sumber :
http://www.hewankesayangan.com/anjing/mengenal-anjing-pudel
https://binatang.web.id/tips-merawat-anjing-pudel/
http://dunia-hewan.net/tips-mudah-memelihara-dan-merawat-anjing-poodle.html
http://anjingkita.com/artikel/3710/proses-memandikan-anjing
Sumber Gambar:https://pixabay.com/

ESIKLOPEDI IKAN KOI DAN ISTILAH KAMUS KOI

Ikan Hias Koi

Anekapeliharaanhias---Esiklopedi Ikan koi - Kumpulan istilah dan kamus Ikan Koi yang banyak digunakan para Hobbies dan pencinta ikan Hias Koi....;

A ;

Agi – Dagu. Istilah ini digunakan bukan hanya untuk menunjukkan ‘dagu’ Koi, tetapi juga menunjukkan seluruh bagian samping muka termasuk penutup insang.

Agi Sumi – SUMI yang terletak pada bagian AGI.

Ai – warna biru Indigo, seperti pada warna dasar ASAGI atau aksen pada AIGOROMO.

Aigoromo - pola netting berwarna indigo pada pola merah KOHAKU.

Ai-no-Fuki – Pola melengkung berwarna indigo diatas pola Hi seperti pada AIGOROMO

Ai-no-Fukidashi - Ai yang mulai naik/ muncul

Ai-Sashi – Sashi biru. Sashi pada AIGOROMO

Aka – Istilah umum yang berarti ‘merah’

Aka Hajiro – Koi Merah dengan sirip putih dengan MOTOAKA pada pangkal sirip pectoral. Merupakan jenis pengembangan dari BENIGOI

Akame Kigoi – KIGOI bermata merah.

Aka Muji – Koi bersisik Merah, biasa juga disebut HIGOI

Aka Sanke – Sanke Merah. Aka berarti ‘merah’. AKA SANKE adalah Taisho Sanshoku (Sanke) dengan warna merah/HI yang dominan dan SHIROJI yang sangat minim. AKA SANKE bukan nama jenis Koi, tetapi istilah ini lebih pada memberikan deskripsi. Meski minimnya SHIROJI mengurangi keanggunannya, AKA SANKE mempunyai citra yang dinamis dan kuat.

Amime - Netting. Bagian badan Koi dilapisi dengan sisik dan kadang tumpukan sisik ini tampak seperti pola jaring yang sangat indah. Ini disebut AMIME

Aoji – Dasar biru; Sumi yang belum naik/ muncul pada permukaan badan Koi. Disebut juga SOKO ZUMI: (SOKO artinya ‘dasar’). AOJI umumnya terlihat pada SHIROJI dan tampak berwarna biru transparan. Ini menunjukkan SUMI yang belum ‘finished’. Istilah ini hanya digunakan pada beberapa jenis yang memiliki SUMI seperti pada Taisho Sanshoku (Sanke). Setelah AOJI naik, KOI bisa disebut ‘finished’

Aragoke – Bersisik besar.

Asagi - Koi Biru dengan perut berwarna merah, pola yang utama adalah FUKURIN yang nampak seperti pola tipis berupa jaring diatas warna dasar indigo, bagian kepala putih bersih, sebagian memiliki MOTOAKA. Jenis ini termasuk jenis tua.

Atama – Kepala; Mahkota

Atama ga hageru – Keadaan kepala yang bersih; kepala yang bersih

Ato – Lambat naik/ munculnya (misal: ato sumi)


B ;

Bekko – Koi dengan warna dasar solid dihiasi dengan spot hitam yang menyebar; Shiro Bekko adalah Koi putih dengan spot hitam, Hi Bekko adalah Koi merah dengan spot hitam, Ki Bekko adalah Koi Kuning dengan spot hitam.

Beni – Citra warna merah yang lebih kuat.

Benigoi – Koi berwarna merah, lebih merah dari HIGOI.

Beni Kumonryu – KUMONRYU dengan pola HI. BENI adalah istilah lain untuk warna merah. KUMONRYU adalah versi DOITSU dalam keluarga KARASU. Bila KARASU dikawinkan dengan KOHAKU, maka akan menghasilkan BENI KUMONRYU. Pola HI nya akan lebih mirip dengan pola mendatar KUMONRYU dibandingkan pola KOHAKU.

Beta Ginrin – Kilau Cermin; Seluruh sisik berkilau seperti cermin, disebut juga NIIGATA GINRIN. Kilauannya kuat tetapi tergantung dari sudut pandang. Belakangan, dikembangkan HIROSHIMA GINRIN yang memiliki kilauan yang lebih kuat.

Bire – ‘Api’, nama yang digunakan untuk pola merah tertentu pada ASAGI dan SHUSUI

Boke – SUMI yang belum/ tidak naik (pada SHOWA)

Bongiri – Setengah (badan Koi) Kedua berwarna lebih terang. Koi yang pada setengah bagian belakang badannya memiliki sedikit pola atau pola yang ringan dibandingkan dengan setengah bagian depannya. Koi ini seperti hanya memakai kaus oblong saja: keadaan kurang baik pada Koi yang masih berukuran kecil tetapi bila Koi ini berkualitas tinggi dan tumbuh besar maka akan menjadi Koi yang sangat cantik. Banyak koi juara berpola BONGIRI.

Bozu – Gundul; merujuk pada biksu Budha. Koi dengan kepala putih tanpa HI ataupun SUMI. Awalnya, walaupun pada kepala Koi hanya ada sedikit bercak warna, ini tetap tidak disebut BOZU. Tetapi sekarang, semua Koi dengan kepala berwarna terang disebut BOZU.

Bu – Pembagian kelas menurut satuan panjang di Kontes Koi di Jepang.

Budo Goromo – GOROMO berwarna anggur. BUDO berarti warna ‘anggur’ (ungu tua). Warna BUDO menumpuk pada seluruh pola HI, tidak membentuk lengkungan seperti pada AIGOROMO. FUKURINnya juga berwarna BUDO. Jenis ini memiliki kontras yang sangat kuat dan indah antara SHIROJI dan BUDO.


C ;

Carotene – Nutrisi yang memberikan warna merah pada Koi. Koi menyerap carotene sebagai nutrisi agar tetap hidup dan tumbuh. Ketika carotene berada dalam lemak di permukaan tubuh koi, maka akan nampak sebagai warna merah. Karena Shiro Utsuri tidak memiliki warna merah pada polanya, maka carotene yang dikonsumsi oleh jenis ini akan mengakibatkan munculnya noda merah pada pola.

Caudal fin – Sirip ekor.

Chagoi – Koi bersisik berwarna kecoklatan. Istilah ini sering secara salah ditujukan pada Koi berwarna abu-abu kebiruan (SORAGOI) dan Koi warna kehijauan (MIDORIGOI)

Chigyo – Burayak yang belum disortir

Chobo Zumi – Bayang gelap pada kepala Koi muda yang disebabkan oleh kulit tipis dan transparan pada bagian itu.

Chupa – Koi berkualitas menengah


D ;

Dagoi – Koi berkualitas rendah.

Daiya Ginrin – Kilauan berlian. DAIYA artinya berlian. Ginrin yang sangat berkilau dilihat dari sudut manapun, disebut juga HIROSHIMA GINRIN. DAIYA GINRIN adalah pengembangan dari NIIGATA GINRIN yang yang dilakukan oleh KAMIDERA Koi Farm di Hiroshima.

Danmoyo – Pola bertingkat (STEP). Pola HI terpisah yang membentuk tingkatan, dihitung mulai dari bagian kepala ke bagian ekor “step ke-1” “step ke-2” “step ke-3” dst.

Date – Pola. Disebut juga KATATSUKI. Pola hanya merupakan salah satu komponen dari keindahan ikan Koi. Konformasi dan Kualitas adalah yang lebih penting.

Doy Hi – HI di badan.

Doh Zumi - Menunjukkan Sumi yang melebar hingga kebawah gurat sisi SHOWA.

Doitsu – Koi Jerman, hanya bagian tertentu dari badannya bersisik, biasanya disepanjang dua gurat sisi dan disisi sirip dorsalnya.

Doitsu Yamato Nishiki / Heisei Nishiki – SANKE metalik tanpa sisik

Doitsu Yotsushiro – asal KUMONRYU; YOTSU artinya 4, SHIRO berarti PUTIH: Koi dengan 4 bagian putih: hidung, ekor dan dua sirip pektoral

Doka Zumi – Sumi yang lebar, disebut juga OH ZUMI

Doroike –Mud pond/ Empang

Doware – Bagian putih yang lebar pada pola Koi


E ;

Egatacho – Buku yang berisi gambaran tangan jenis-jenis Koi sebelum kamera foto ditemukan.


F ;

Fuji –Warna metalik di bagian kepala beberapa koi muda non-metalik

Fukurin – Pembungkus sisik. Bagian yang keras dari kulit (cuticle) yang tampak seperti seperti garis yang mengelilingi sebuah sisik. Nama ini diambil dari kata FUKU (‘melapisi’ atau ‘membungkus’) dan RIN (‘sisik’). FUKURIN jelas tampak pada jenis HIKARIMONO. Awalnya diyakini hanya terdapat pada jenis berwarna metalik karena memang agak sulit melihatnya pada varietas lain. Saat ini FUKURIN juga terlihat pada KOHAKU dan SANKE berukuran besar.

Funazoko Hi – HI dasar. HI pada bagian perut dan dibawah gurat sisi ASAGI atau SHUSUI. FUNAZOKO artinya bagian bawah/ dasar kapal. Merupakan poin apresiasi untuk jenis ini karena kurang kuatnya warna lain pada jenis ini.

G ;

Gaku Hi – Hi pada bagian atas muka (kening)

Gin – Warna perak, metalik.

Ginsui – Shusui metalik., biasa juga disebut KINSUI

Gin Me – Mata perak. Lingkaran warna putih disekeliling mata Kohaku. Bila Koi bermata hitam (KURO ME), kemungkinan besar adalah Sanke atau Showa.

Ginrin/ Kinrin – GIN artinya “perak”, KIN artinya “emas” dan RIN berarti “sisik”. KIN GINRIN (istilah yang benar) seringkali disingkat atau disebut dengan GINRIN.

Gin Shiro – Pendeknya dari GIN SHIRO UTSURI. Jenis ini memiliki pola SHIRO UTSURI diatas dasar warna platinum. Perhatikan bahwa jenis ini berbeda dari GINRIN SHIRO UTSURI.

Godan – Pola lima step

Goma Zumi – GOMA artinya “biji wijen”. GOMA ZUMI adalah sumi-sumi kecil yang tersebar di tubuh Koi seperti biji wijen di atas masakan Jepang.

Gosai – usia lima tahun.

Gosanke - Kohaku, Taisho Sanshoku (Sanke) dan Showa. Ada lebih dari 80 jenis ikan Koi. Diantaranya adalah Kohaku, Taisho Sanshoku (Sanke) dan Showa yang dianggap sebagai jenis yang paling utama dan dasar. Ketiga jenis Koi ini sering disebut Gosanke.

Goshiki – artinya “5 warna”; Kohaku dengan pola NET warnabiru diatas SHIROJI dan HI, beberapa GOSHIKI hanya memiliki NET diatas SHIROJInya, warna merah dan biru bertumpuk sehingga menjadi warna ungu terutama pada bagian kepala, non-metalik sehingga berbeda dari KUJAKU.

Gotenzakura – Pola buah ceri


H ;

Hachi – Kepala. Istilah lainnya adalah KAO dan MEN (wajah). Bagian kepala sering kali dianggap sebagai bagian yang sangat penting dalam apresiasi Koi terutama bersihnya SHIROJI dan pola pada kepala.

Hachiware – Kepala terbagi.; HACHI artinya ‘kepala’, WARE artinya ‘membagi’; Pola SUMI yang membagi kepala seperti pada SHIRO UTSURI, SHOWA, KINSHOWA dan UTSURI lain. Biasa juga disebut MENWARE. MEN artinya ‘wajah’.

Hageshiro – HAJIRO dengan kepala warna putih.

Hajiro – Koi bersisik hitam dengan sirip pektoral (sirip dada) berwarna putih atau berujung putih dan bagian perut berwarna putih.

Hakamahaki - Koi dengan pola yang padat di setengah bagian belakangnya sehingga tampak seperti sedang memakai celana panjang. Lawannya adalah BONGIRI yang tidak mempunyai atau sangat sedikit pola di setengah bagian belakang badannya.

Hanagara Moyo – Pola bunga; pola hi yang tampak seperti bunga yang sedang mekar.

Harabote – Badan yang gemuk; ‘Body conformation’ adalah hal yang utama dalam penilaian seekor Koi. Bentuk badan Koi yang sedemikian rupa sehingga ketika dia berenang tidak menciptakan tekanan di permukaan air adalah yang yang dianggap ideal. Koi yang terlalu gemuk (disebut HARABOTE) kurang disukai.

Hariwake – HIKARIMONO MUJI yang mempunyai warna dasar putih metalik dengan pola berwarna kuning sampai merah. Dengan semakin berkembangnya jenis ini, warna pola semakin bervariasi antara nuansa kuning dan merah, tetapi Koi dengan pola merah yang baik sekarang menjadi jenis tersendiri, disebut KIKUSUI yang sebenarnya adalah KOHAKU metalik.

Hasami Zumi – SUMI Sisipan (?) (Mohon dikoreksi?); SUMI diantara pola-pola HI. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan SUMI pada jenis SANKE. HASAMI SUMI letaknya di bagian SHIROJI yang sempit, bukan terletak pada pola HI.

Hashiri Zumi – HASHIRI artinya “lari; terletak sepanjang”; SUMI dalam bentuk garis-garis (bukan seperti MOTOGURO) pada sirip dada SHOWA. Istilah ini juga digunakan untuk menunjukkan garis-garis SUMI pada sirip dada SANKE. Istilah ini hanya digunakan pada sirip dada dan ekor, tetapi tidak untuk SUMI pada bagian badan.

Heisei Nishiki – Lihat DOITSU YAMATO NISHIKI

Hi – Merah; AKA dan BENI juga berarti “merah” hanya penggunaannya saj yang berbeda.

Higoi – Koi dengan warna merah solid yang lebih muda dibanding BENIGOI, sering juga disebut AKA MUJI

Hikari – metalik; ada tiga golongan HIKARIMONO: HIKARI MUJI (termasuk PLATINUM dan YAMABUKI), HIKARIMOYO (termasuk KUJAKU) dan HIKARI UTSURI (termasuk KIN SHOWA, GIN SHIRO UTSURI dan KIN KI UTSURI)

Hikarimono – Golongan metalik; Koi dengan badan berwarna metalik mengkilap yang merupakan keturunan dari OGON asli.

Hikobore – Noda-noda HI yang menyebar; HI – HI kecil tang terpisah dari pola HI yang lebih besar, disebut juga TOBI HI. Biasanya tidak disukai, tetapi bisa menjadi aksen yang baik pada KOHAKU yang terlalu banyak SHIROJInya.

Hi-moyo – Pola merah, seperti pada KOHAKU

Himo Zumi – SUMI Benang; bentuk Sumi yang memanjang dan tipis seperti benang (HIMO) tetapi tidak harus lurus. Istilah ini biasanya digunakan untuk menunjukkan SUMI pada SHOWA dan SANKE. SUMI ini cenderung menjadi melebar, tetapi bila tetap muncul sebagai pola yang tipis dan artisti maka akan membuat Koi menjadi lebih menarik. Tergantung pada arah polanya, disebut TATE ZUMI bila sejajar dengan sirip punggung; disebut OBI ZUMI bila memotong sirip punggung atau disebut TASUKIGAKE bila arahnya diagonal.

Hi Mura – HI yang tidak rata; HI yang baik adalah HI yang (kepekatannya) rata diseluruh badan Koi. HI bisa menjadi semakin rata pada Koi dewasa dan ketika karoten semakin banyak.

Hinomaru – Matahari terbit

Hirenaga Koi – Koi Kumpay; Koi dengan sirip panjang (dianggap bukan salah satu jenis Koi)

Hi Showa – SHOWA Merah; SHOWA dengan lebih banyak pola HI dibandingkan SHIROJI. HI SHOWA bukan nama jenis, tetapi lebih merupakan penjelasan atas banyaknya HI dan SHIROJI pada SHOWA. Sejak KINDAI SHOWA (memiliki lebih banyak SHIROJI) semakin banyak diternakkan maka jenis SHOWA tradisional sering disebut HI SHOWA.
Kamus istilah koi part 3 ( alfabet H - I - J - K )
 Hoaka – HI pada tutup insang

Honmeibara - The favorite parent out of many parental Nishikigoi.

Honzumi – SUMI dengan warna hitam indigo dianggap sebagai SUMI yang stabil

Hoshi – bagian yang polos atau jendela dalam sebuah pola

Houki Zumi – SUMI sapu; HOUKI berarti “sapu”. SUMI yang terlihat seperti bekas tersapu berupa pola garis-garis pada sirip dada atau ekor SANKE. HOUKI ZUMI disebut juga HASHIRI ZUMI atau TEJIMA. Garis-garis yang tipis lebih disukai dibandingkan garis yang tegas dan tebal.

I ;

Ichimatsu – Papan catur; pola berselang dari bagian kanan ke bagian kiri

Ichimatsumoyo – Pola papan catur

Ikeage – Panen Koi dari kolam lumpur

Inazuma – Petir; Istilah yang digunakan untuk menggambarkan pola Hi yang berkelok seperti petir di sepanjang badan.


Ippin – Unik; Setiap Koi berbeda dan mempunyai nilai keindahan masing-masing. Koi yang cantik dan unik disebut IPPIN. IPPIN berarti keindahan yang unik dan kemampuan untuk menarik perhatian yang hanya dimiliki oleh ikan Koi. Istilah lain yang digunakan adalah MEIRI.

Ipponhi – Merah yang tidak terputus; Pola HI yang menyambung dari kepala hingga ekor. Banyak yang berpendapat bahwa pola ini adalah pola yang membosankan. Bila secara keseluruhan Koi ini berkualitas tinggi, maka pola ini masih bisa diapresiasi. INAZUMA adalah salah satu bentuk IPPONHI.

Iro – Warna

Iroagari – Tingkat kepekatan warna

Iroage – Peningkatan kualitas warna; Karena ikan Koi tidak dapat memproduksi sendiri pigmen merah dalam tubuhnya, maka sebaiknya kita memberi makanan yang mengandung karoten untuk menjaga dan memelihara warna merah pada pola Koi.

Irogoi – Nama Kuno untuk Nishikigoi.


J ;

Jihada – Tekstur kulit Koi

Jikasan – Hasil ternakan sendiri; digunakan untuk membedakan Koi yang dibeli dari peternak lain.

Jitai – tinggi badan KOI; antara bagian kepala dan bagian yang tertinggi dari badan. Pendapat lain mengatakan, JITAI adalah istilah yang mengekspresikan hubungan dan kesatuan yang khusus antara tekstur kulit (JI – terutama SHIROJI) dan badan (TAI) Koi. Kata ini digunakan secara khusus ketika kita sedang membicarakan konstruksi koi yang berkualitas tinggi. Koi yang memiliki kulit yang putih bersih dan badan yang baik berarti memiliki elemen dasar dari Koi yang berkualitas tinggi. Dan JITAI yang baik adalah warna kulit yang putih bersih dengan struktur tulang yang bagus.

Joppa – Istilah yang digunakan untuk menunjukkan jenis Koi yang lebih tinggi, biasanya untuk

Juji – Bentuk Salib

Jyami – bintik-bintik kecil SUMI pada jenis-jenis KOI yang memiliki SUMI, menunjukkan kualitas rendah dan cacat.

Jyami Zumi – bintik-bintik SUMI kecil dan banyak; disebut juga JYARI SUMI atau GOMA (biji wijen). Bintik-bintik ini tidak menyatu membentuk bintik SUMI yang besar sehingga tampak kotor dan membuat Koi terlihat kurang anggun. Bila bintik ini muncul pada pola HI maupun SHIROJI maka akan makin menurunkan nilai Koi tersebut. JYAMI adalah sekelompok bintik kecil SUMI, sedangkan SHIMI adalah sebuah bintik tunggal.

K ;

Kabuto – Helem; pada KIN atau GIN KABUTO, kilau metalik di kepala Koi berwarna hitam

Kagamigoi – Ikan cermin; sisik di sebagian badan; DOITSU atau Koi Jerman

Kage – Bayang; bayangan; pola membayang yang muncul dimana SUMI seharusnya tidak ada, sering tampak seperti bayangan hitam diatas sisik putih seperti pada KAGE SHIRO UTSURI

Kage Showa – Jenis ini dikembangkan dari garis keturunan yang sama dengan KOROMO SHOWA. Jenis ini mempunyai pola netting seperti pada ASAGI diatas kulit berwarna putih. Sisik pada SHIROJI mempunyai bayangan. Keadaan ini bukan menunjukkan kualitas yang rendah tetapi merupakan perkembangan pada pola.

Kage Zumi – SUMI bayangan; KAGE ZUMI adalah bagian dari SUMI yang baru mulai naik tetapi belum sepenuhnya muncul diatas permukaan kulit sehingga terlihat seperti bayangan berwarna biru. Bila SUMI tetap dibawah permukaan kulit maka disebut SHITA ZUMI.

Kaku Tan – HI berbentuk kotak pada kepala. Hanya digunakan pada KOI yang mempunyai pola HI pada badannya. Sekarang, kata MARUTEN (HI berbentuk bulat pada kepala) lebih sering digunakan dibandingkan KAKU TAN.

Kaku Zumi – SUMI berbentuk kotak; SUMI bulat disebut MARU ZUMI. KAKU ZUMI sering tampak pada garis keturunan seperti TORAZO SANKE atau JINBEI SANKE. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan SANKE, tetapi juga dapat digunakan untuk menjelaskan SUMI pada SHOWA.

Kamisori – Batas yang tajam pada pola yang memotong sisik

Kamisori Giwa – KIWA yang sangat tajam/ jelas. Istilah yang digunakan untuk menjelaskan bentuk KIWA pada sisi-sisi/pinggir pola HI. Artinya, KIWAnya sangat tajam dan lurus seperti potongan silet dan memotong sisik bukannya mengikuti bentuk sisik. Ini adalah salah satu keadaan KIWA yang ideal. Keadaan KIWA ideal yang lain adalah MARUZOME.
Kamus istilah koi part 3 ( alfabet K )
 Kana – Koi jantan

Kanoko – Bintik HI pada tengah sisik SHIROJI

Kao - 'Wajah’; bagian diantara kedua pipi (disebut juga MEN)

KHV - Koi Herpes Virus; Virus yang sangat mudah menular. Hingga sekarang belum ada obat yang terbukti secara ilmiah menyembuhkan. Infeksi KHV dapat membunuh seluruh Koi dalam kolam dengan cepat. Karantina ikan yang baru dibeli adalah satu cara untuk mencegah infeksi KHV walaupun cara ini belum dapat menjamin keselamatan isi kolam.

Karasu atau Karasugoi - "Si Gagak” atau Koi hitam tanpa warna putih sama sekali.

Karasu no nurebairo – Warna bulu burung gagak yang basah berkilat; KARASU artinya ‘gagak hitam’. NUREBAIRO artinya ‘bulu yang basah’. Ketika burung gagak terkena air, bulunya mengkilat dengan warna hitam yang indah dan unik. KARASU NO NUREBAIRO adalah ekspresi penilaian tertinggi atas warna SUMI.

Kasane Zumi – SUMI yang menumpuk; KASANE artinya ‘menumpuk’. SUMI yang menumpuk diatas HI. Sering juga disebut NOSE (artinya ‘menunggang’) ZUMI. SUMI pada pola HI tidak benar-benar menembus kulit (seperti SUMI pada SHIROJI) sehingga sifatnya tidak stabil dan dapat berpindah ketika KOI menjadi besar. KASANE ZUMI pada SANKE malahan dapat menghilang.

Kashira – KOI yang terindah pada satu kelompok.

Kata Moyo – Pola hanya pada satu sisi badan; Istilah ini untuk menggambarkan pola HI yang tidak seimbang, dimana polalebih berat di sisi kiri atau kanan.

Kata Zumi – Pola SUMI pada bahu.

Kawagoi - KOI kulit; KAWA artinya ‘bahan kulit’. Satu jenis DOITSU KOI yang kulitnya seperti jaket kulit. Semua KAWAGOI adalah DOITSUGOI, tetapi tidak semua DOITSUGOI adalah KAWAGOI.

Kawari – KOI aneh; disebut juga KAWARIGOI

Kawarimono – KOI yang tidak dapat diidentifikasi sebagai satu golongan yang sudah dikenal. MONO artinya ‘golongan’ dan golongan untuk KAWARIGOI di kontes-kontes disebut KAWARIMONO. Yang termasuk dalam golongan ini adalah KOI yang secara tidak sengaja ‘lahir’ dalam proses menernakkan jenis lain. Contohnya adalah KIGOI, Koi dengan sisik berwarna kuning polos dan BENI KIKOKURYU yang sangat cantik. Banyak Koi dari golongan ini terlihat sangat indah.

Kego – Anak ikan yang baru menetas (burayak). Awalnya, burayak-burayak ini sangat kecil sehingga hampir tidak terlihat dan sama sekali tidak nampak seperti KOI. Tergantung pada warna badannya, disebut AKAKO (burayak merah), KUROKO (burayak hitam) atau SHIROKO (burayak putih).

Keitou – garis keturunan; Generasi-generasi Koi yang telah dihasilkan oleh seorang peternak untuk mengembangkan karakter tertentu yang akan diteruskan pada generasi selanjutnya. Contohnya adalah SENSUKE KOHAKU dan JINBEI SANKE. Nama peternak biasanya disebutkan untuk menunjukkan garis keturunan.

Ki – Kuning.

Kigoi - Koi Kuning

Kikei – Koi cacat.

Kikokuryu – KUMONRYU metalik.

Kikusui - DOITSU PLATINUM KOI dengan pola HI sama dengan DOITSU HARIWAKE dengan pola-pola merah atau DOITSU KOHAKU metalik.

Kin – warna emas metalik seperti kulit mengkilat pada YAMABUKI OGON; warna ‘emas’ seperti pada HARIWAKE – dari kuning hingga merah.

Kindai Showa Sanshoku – SHOWA Modern. KINDAI artinya "modern." Istilah ini menggambarkan SHOWA yang memiliki banyak SHIROJI. Ketika pertama kali dikembangbiakkan, SHOWA memiliki banyak HI dan SUMI, sedangkan SHIROJInya sangat sedikit. SHOWA orisinil ini sekarang disebut HI SHOWA atau MUKASHI SHOWA. KINDAI SHOWA adalah hasil pengembangan sedemikian rupa dari SHOWA orisinil sehingga memiliki lebih banyak SHIROJI yang mana akan memberikan penampilan yang lebih seimbang.

Kin Gin Rin – Sisik berlian, KIN atau emas diatas merah, GIN atau perak diatas putih dan hitam. Beberapa macam KIN GIN RIN pernah dikenal tetapi sekarang satu jenis saja yang dianggap standar, biasa disebut GINRIN.

Kinitsusei – Keseragaman warna.

Kin Ki Utsuri – Koi hitam metalik dengan pola emas kekuningan atau kemerahan.

Kinporai – MATSUBA OGON warna tembaga metalik

Kin Showa – SHOWA metalik

Kinsui – SHUSUI metalik dengan lebih banyak HI (lihat GINSUI)

Kinzakura – Ceri emas; HI dengan pinggiran warna emas

Kirekomi – SHIROJI yang memotong pola-pola HI dari bagian perut. SHIROJI inilah yang membentuk step-step pola, pola-pola yang kompleks dan pola INAZUMA. Posisi KIREKOMI sangat penting karena dia akan melebar pada saar KOI semakin besar. Pola HI tanpa KIREKOMI disebut IPPONHI.

Kiwa – Ketajaman setiap pinggiran pola-pola

Koborehi – warna merah yang berantakan/ terpisah-pisah

Koboresumi – warna hitam yang berantakan/ terpisah-pisah

Kohaku – Koi putih dengan pola merah

Koke – sisik

Kokenami – mengenai sisik atau skalasi; Sisik yang tidak rapih atau tidak rata pada Koi bersisik adalah sebuah kelemahan. Skalasi adalah hal penting terutama pada jenis DOITSU yang memiliki hanya sedikit sisik dan pada MUJIMONO (Koi satu warna)

Kokesuki – Bagian yang berwarna lebih muda pada pola HI karena bekas luka atau sisik yang lepas. Istilah ini menggambarkan sisik-sisik yang berbeda saturasinya sehingga warna kulit tembus pandang. Sisik-sisik ini terlihat lebih tipis dan transparan dibandingkan sisik lain didekatnya. Warna sisik nampak tidak rata. Ini dianggap cacat atau kelemahan. Pada KOI yang merahnya bagus dan pekat, KOKESUKI bisa membaik meskipun pada umumnya sangat sulit. KOKESUKI menunjukkan sisik yang menjadi buram atau kehilangan warna dan mengakibatkan HI MURA (warna yang tidak rata).

Kokkaku – Struktur tulang. ‘Body conformation’, kualitas, pola adalah tiga elemen penting dibalik keindahan KOI. Dasar dari ‘body conformation’ yang baik struktur tulang yang baik.

Komoyo – pola-pola kecil seperti bunga

Konjo – biru tua keunguan

Konzai – KIWA yang memiliki elemen MARUZOME dan KAMISORI

Koromo – KOHAKU dengan pola net diatas pola Hinya; AIGOROMO dengan net warna biru, SUMIGOROMO dengan net warna hitam

Kokugyo – KOKUGYO artinya ‘ikan nasional’. Istilah ini juga diberikan pada KOI yang memenangkan BEST IN SIZE di The All Japan Combined Nishikigoi Show.

Koromo Sanshoku – SANKE yang memiliki AI pada pola Hinya, jenis yang sangat langka.

Kozumi – bintik-bintik kecil berwarna hitam

Kubiwa Zumi – SUMI kerah; KUBIWA artinya ‘kerah’ atau ‘kalung’. Istilah ini menggambarkan SUMI yang mengelilingi bagian leher, menghubungkan kedua insang pada keluarga UTSURIMONO (termasuk SHOWA dan semua UTSURI). Disebut KUBIWA ZUMI karena tampak mirip kalung anjing.

Kuchi – bibir, istilah umum

Kuchibeni – Lipstik; HI pada bagian bibir

Kuchi Zumi – SUMI pada bagian mulut seperti pada UTSURIMONO seperti SHOWA. SANKE juga bisa mempunyai KUCHI ZUMI, meskipun sangat langka.

Kujaku – Artinya ‘burung merak’; Pola KOHAKU pada GIN MATSUBA, GOSHIKI metalik

Kumonryu – Naga terbang; Dalam legenda Jepang kuno, KOI menjelma menjadi naga yang terbang di angkasa. Naga terbang disebut KUMONRYU. Pola SUMI pada KOI ini terus berubah seiring usianya. Karena perubahan SUMI pada badannya mirip dengan naga terbang, maka jenis ini disebut KUMONRYU.

Kumoru – Hilangnya kecerahan dan kilap warna.

Kuragake – Pelana; istilah ini menggambarkan pola yang melintang pada punggung dan menutup kedua sisi badan koi sehingga mirip pelana kuda. Ini adalah salah satu pola yang paling stabil. Istilah ini biasanya digunakan untuk pola HI, tetapi kadang juga bisa menggambarkan pola SUMI.

Kuro – Hitam

Kurozumi – hitam pekat cemerlang tanpa unsur biru

Kuroboshi – Bintik hitam yang besar. Pada SHOWA, ini adalah awal dari perkembangan SUMI. Bintik ini sudah mulai naik, lebih menyatu dan lebih gelap dibandingkan KAGE ZUMI.

Kurogoi – Ikan mas hitam, nenek moyang Koi

Kurogoshiki – KURO artinya ‘hitam’. Istilah ini menggambarkan GOSHIKI dengan warna dasar badan hitam. Ini bukan nama jenis Koi. Warna dasar badan tergantung pada suhu air, di air hangat warnanya semakin muda dan menjadi gelap pada air bersuhu lebih rendah.

Kuroko – Burayak hitam; Hanya KUROKO yang akan dipilih dalam CULLING (penyortiran) KUMONRYU dan UTSURIMONO seperti SHOWA.

Kurome – Mata hitam; Disekeliling mata berwarna hitam seperti pada SANKE dan SHOWA. Bila sekeliling mata putih (GIN ME atau mata perak), maka biasanya KOHAKU.

Kutsubera – Bentuk sendok sepatu; Digunakan untuk menggambarkan pola HI khusus di kepala. Polanya terdiri dari HI yang melingkar diatas mulut dan HI berbentuk trapesium di bagian dahi.

Kyobai - Lelang.
Kamus istilah koi part 3 ( alfabet M - N - O )


M ;

Mado – Jendela; Sedikit SHIROJI yang muncul dalam pola HI atau SUMI yang tampak seperti jendela. SHIROJI dalam pola HI ini disebut juga MADOAKI. Ini dianggap sebuah kelemahan karena MADO dapat merusak keindahan pola. Bila MADO membantu keseimbangan pola secara keseluruhan maka masih bisa diterima. MADO dapat disebabkan oleh kualitas induknya atau karena sisik yang hilang atau rusak.

Madoaki – Jendela SHIROJI dalam sebuah pola HI, dianggap sebuah kelemahan.

Magoi – ikan mas liar

Maki – Pola yang membungkus dibawah gurat sisi Koi, HI MAKI disukai pada KOHAKU dan Koi lain yang memiliki dasar pola KOHAKU, sedangkan SUMI MAKI disukai pada SHOWA.

Makiagari – Membungkus ke arah atas; Istilah untuk menggambarkan SUMI pada keluarga UTSURIMONO seperti SHOWA atau SHIRO UTSURI. SUMI pada keluarga UTSURIMONO ‘naik’ membungkus badan dari bagian perut ke bagian punggung. Istilah MAKIAGARI hanya digunakan pada SUMI untuk jenis-jenis Koi ini. Kita tidak menggunakan istilah MAKISAGARI untuk SUMI karena artinya ‘membungkus ke arah bawah’.

Makikomi – pola yang melebar dari bagian atas hingga ke bagian perut

Makisagari – Membungkus ke arah bawah; Istilah untuk menggambarkan pola HI yang membungkus dari bagian punggung ke bagian perut. Bila pola berhenti diatas gurat sisi, bisa dikatakan ‘MAKISAGARInya ringan’. Istilah ini hanya digunakan untuk pola HI. MAKIAGARI adalah istilah untuk menggambarkan SUMI pada jenis UTSURIMONO.

Maezashi – sama dengan SASHI

Mameshibori – Salah satu dari dua macam warna dasar GOSHIKI. MAMESHIBORI untuk warna dasar GOSHIKI yang lebih terang. Tidak seperti KURO GOSHIKI, pola netting-nya cenderung tidak berubah menjadi gelap mengikuti suhu air. Warna dasar Koi ini biasanya tetap tidak berubah.

Maruten – Pola Hi berbentuk bulat pada kepala. Bila Koi hanya memiliki satu pola HI berbentuk bulat di kepala maka disebut TANCHO. Bila Koi memiliki beberapa pola HI termasuk pola HI berbentuk bulat di kepala maka disebut MARUTEN. Pola ini menyerupai bendera Jepang. Pola HI yang bulat penuh dan besar sangat disukai. Pola HI bulat dan kecil pada kepala disebut KO MARUTEN.

Maruzome – KIWA yang membulat atau mengikuti bentuk sisik; disebut juga TAMA GIWA; salah satu dari bentuk KIWA yang utama. Sering terlihat pada KOHAKU keturunan DAINICHI. Sangat disukai karena menyerupai kelopak bunga sakura; Kebalikannya adalah KAMISORI GIWA

Matsuba – Buah pinus; Pola dasar di seluruh bagian tubuh dengan sisik berwarna AI gelap (indigo). Dinamai MATSUBA karena penampilan sisiknya yang menyerupai buah pinus. Tidak seperti KAGE yang muncul pada bagian SHIROJI Koi dari keluarga UTSURIMONO, MATSUBA juga muncul pada pola HI, baik pada jenis metalik maupun non-metalik.

Matsukawabake – Koi hitam dan putih, bersisik.

Medaira – Garis imajiner diantara kedua mata yang digunakan untuk menentukan pola pada kepala yang ideal. Bila pola dimulai diatas garis ini maka pola dianggap ringan. Pola yang ideal dimulai sedikit dekat mulut atau sedikit melengkung ke arah mulut.

Meiri – Yang terbaik; Koi yang terindah diantara semua Koi yang terbaik; Istilah yang semakna adalah IPPIN

Mekazura – Lingkaran luar mata; Kulit dan otot yang mengelilingi mata, termasuk kelopak mata. Bila MEKAZURA berwarna putih pada pola MENKABURI, maka MENKABURI tidak dianggap kualitas rendah.

Mekiki – Ahli Koi; Orang yang berpengalaman dan mempunyai keahlian dalam menilai Koi, bukan hanya nilainya pada saat ini tetapi juga masa depannya.

Men – ‘wajah’; LIHAT: juga KAO

Mena & Kana – MENA artinya Betina dan KANA artinya jantan.

Menasa - Pola yang ringan atau dangkal pada kepala. Koi MENASA mempunyai SHIROJI yang lebar dibagian kepalanya karena pola mulai terdapat dibagian belakang sedikit jauh dari kepala. Kita bisa katakan “Kepala Koi ini MENASA.”

Menkaburi – HI yang melebar hingga kebagian mata. Kurang disukai terutama pada KOHAKU.

Menshiro – Muka Putih; Menunjukkan bahwa kedua tutup insang berwarna putih (tidak terdapat HI); Hal ini sangat penting pada jenis KOHAKU, walaupun bukan merupakan sesuatu yang absolut. Bila Koi mempunyai nilai-nilai lain yang luar biasa, pola MENKABURI pun bisa dinilai sebagai sesuatu yang dapat diterima.

Menware – Kepala yang terbagi; disebut juga HACHIWARE; menggambarkan pola SUMI pada SHOWA atau SHIRO UTSURI yang membagi kepala menjadi dua bagian. MENWARE yang ideal berpola INAZUMA mulai dari mulut ke bagian bahu. Lihat penjelasan di HACHIWARE.

Midorigoi – Koi non-metalik berwarna Kuning-Hijau, bisa DOITSU ataupun bersisik

Midori Ogon – MIDORIGOI metalik, dengan sedikit SUMI, hanya DOITSU

Mizu – Air

Motoaka – HI pada dasar sirip pektoral (dada), idealnya seluas 30% dari sirip pektoral, selebihnya harus berwarna putih. Bila tersembunyi pada KOHAKU ketika dilihat dari atas maka masih bisa diterima tetapi bila nyata terlihat maka dianggap sebuah kelemahan. MOTOAKA dianggap sebuah kelemahan pada KOHAKU tetapi disukai pada jenis ASAGI dan SHUSUI.

Motoguro - SUMI pada dasar sirip pektoral (dada), terutama pada jenis SHOWA dan SHIRO UTSURI. Bisa juga berarti SUMI pada sirip ekor. Idealnya seluas 30%. Sedikit SUMI yang berkumpul di satu bagian dimana sirip menempel pada bagian badan menunjukkan kualitas SUMI pada Koi. Bila SUMI menyebar seperti sapu pada jenis SHOWA dan SHIRO, maka dianggap kelemahan. MOTOGURO yang berkualitas membuat sirip pektoral tampak gagah dan dianggap sebagai salah satu keindahan dari jenis-jenis ini.

Moyo – Pola, disebut juga KATATSUKI. Pola hanyalah salah satu komponen dari keindahan Koi.
‘Conformation’ dan kualitas adalah hal-hal yang lebih penting.

Moyo no kire – ketajaman sisi dari warna pola.

Mudagoke – Sisik yang tidak beraturan pada jenis DOITSU; Garis sisik yang lurus dimulai dari bahu hingga sepanjang kedua sisi sirip punggung adalah hal utama dari keindahan jenis DOITSU. Sedikit sisik yang diluar keteraturan ini akan sangat jelas terlihat dan merusak penampilan keseluruhan Koi jenis ini.

Muji – warna yang solid.

Mukashi Showa – SHOWA jenis klasik; kebalikannya adalah KINDAI SHOWA (SHOWA moderen) yang memiliki lebih banyak SHIROJI. SHOWA klasik memiliki lebih banyak HI dan SUMI dan sekarang biasa disebut MUKASHI SHOWA atau HI SHOWA. MUKASHI bukan nama jenis melainkan lebih merupakan deskripsi.

Mura – keadaan dimana kepekatan warna tidak rata atau tidak seragam.

Murasakigoi – Koi berwarna ungu/ lavender

N ;

Nabe Zumi – SUMI berkualitas rendah; kebalikannya URUSHI ZUMI

Namikin – sirip ekor

Namitate – sirip dorsal (punggung)

Narumi Asagi – Pola normal pada jenis ASAGI, diambil dari nama NARUMI SHIBORI: salah satu pola pada pakaian tradisional Jepang. NARUMI ASAGI memiliki netting putih yang terbentuk dari FUKURIN yang mengelilingi setiap sisik berwarna biru indigo.

Nezu – abu-abu

Niban Hi – HI tipis; Ini adalah HI sekunder yang muncul belakangan dalam perkembangan Koi. Paling sering terlihat pada KIWA. NIBAN HI membuat pola Koi yang cantik menjadi tampak buram dan menghilangkan kontras antara HI dan SHIROJI. Pola Koi yang mempunyai NIBAN HI sangat jarang kembali menjadi pola yang berkualitas.

Nidan – dua ‘step’

Nidan kohaku – KOHAKU dengan pola dua ‘step’

Niigata Ginrin – Kilau cermin; disebut juga BETA GIN, terutama muncul pada bagian perut Koi dan sangat jarang muncul di bagian punggung. Disebut BETA GIN karena sisik-sisiknya berkilau seperti cermin. Masalahnya kilauan ini terlihat lemah bila dilihat dari sudut tertentu. HIROSHIMA GINRIN adalah versi pengembangan dari GINRIN.

Nimai Zashi – SASHI yang lebarnya dua sisik. NI artinya ‘dua’; NIMAI ZASHI tidak disukai karena SASHI yang sempurna adalah selebar satu sisik saja. SANMAI ZASHI adalah SASHI yang lebarnya tiga sisik.

Nishikigoidaki – Memindahkan Koi dengan tangan; Cara yang terbaik untuk memindahkan Koi yang berukuran besar adalah dengan tangan karena jaring dapat melukai dan merusak sisik Koi. Hanya KOISHI yang berpengalaman yang dapat memindahkan Koi besar dengan tangan.

Nezu Ogon – Koi metalik berwarna abu-abu dan bersisik.

Nisai – umur dua tahun.

Nose Zumi – SUMI yang menumpuk pada pola HI. Disebut juga KASANE ZUMI.

O ;

Obachi – Bagian yang lebih spesifik dari OZUTSU: Daerah ekor bagian atas, tidak termasuk bagian pinggir dan dasar ekor; Daerah ekor adalah bagian yang penting dari Koi sehingga banyak terdapat istilah-istilah khusus.

Obi Zumi – SUMI sabuk; terutama digunakan untuk menggambarkan SUMI pada jenis SANKE; bentuk SUMI yang tipis, panjang dan persegi seperti OBI (sabuk pada pakaian KIMONO). Beberapa bintik SUMI biasanya saling berhubungan membentuk pola. Pola harus memotong bagian punggung dan terlihat seperti OBI.

Ochiba shigure – Pola abu-abu pada Koi coklat, kuning atau hijau.

Odome – bagian antara warna terakhir dan SHIROJI di daerah ekor (PERHATIKAN!: bedakan daerah ekor dan ‘sirip ekor’ (pen.)). ODOME adalah bagaimana pola mulai muncul dan berhenti di daerah ekor. ODOME yang baik harus menciptakan garis yang jelas dan menyisakan bagian berwarna putih. Pola di daerah ekor pada KOHAKU sebaiknya memiliki HI dan SHIROJI, sedangkan pada SANKE dan SHOWA sebaiknya memiliki HI, SHIROJI dan SUMI. Bila daerah ekor sebelum sirip ekor berakhir dengan SHIROJI yang cukup (terutama pada GOSANKE) maka bisa kita katakan “ODOMEnya baik.” Bila SHIROJI terlalu lebar atau ketika hanya HI atau SUMI saja yang mencapai bagian ekor, kita katakan “ODOMEnya jelek.”

Odome Hi – Pola merah pada daerah ekor.

Odome Zumi – SUMI pada daerah ekor.

Ogon – jenis Koi dengan sisik metalik emas (YAMABUKI OGON).

Oh Zumi – SUMI yang lebar pada badan, disebut juga DOKA ZUMI.

Oiyagoi – Induk Koi
Kamus istilah koi part 4 ( alfabet O - P - R - S )
 Ojime – bagian kosong antara ujung pola dan ekor

Omoyo – pola yang membungkus

Oni Uroko – Sisik besar dan berwarna biru tua sepanjang punggung SHUSUI

Orenji – oranye

Otomo – Teman; Sering digunakan untuk menunjukkan Koi gratis yang menyertai dalam pembelian Koi berkualitas tinggi.

Oyabone – Tulang yang tebal pada sirip pektoral, sirip punggung dan sirip ekor.; Idealnya bagian ini berwarna putih, bila berwarna, kita katakan “OYABONE nya buruk.”

Oyugu hoseki – nama lain dari KOI

Ozuke – Pangkal ekor

Ozuke Hi – HI pada pangkal sirip ekor, tidak disukai.

Ozutsu – Bagian ekor; Istilah ini menunjukkan bagian badan mulai dari akhir sirip punggung hingga ke pangkal ekor. Bagian ini adalah bagian yang penting karena terdapat ODOME. Koi dengan OZUTSU yang tebal terlihat kokoh; sedangkan Koi dengan OZUTSU tipis terlihat lemah. Bila Koi memiliki OZUTSU yang tebal ketika masih muda maka dia mempunyai potensi untuk tumbuh menjadi jumbo.

P ;

Platinum – Koi putih metalik

Pongoi – ikan berkualitas baik

Purachina – Platinum

R ;

Renzokumoyo – Pola yang memanjang

Rin – Sisik; hanya digunakan dalam kata majemuk seperti GIN RIN

Rin'oh prize – Juara yang diberikan pada Koi yang memenangkan ‘Best in Size’ dalam The ZNA All Japan Nishikigoi Show. Juara dalam kategori yang sama di The All Japan Combined Nishikigoi Show disebut KOKUGYO PRIZE.

S ;

Sabi – Kedalaman kulit pada Koi yang bersisik.

Saiseirin – Sisik yang tumbuh kembali setelah lepas karena luka atau sakit. SAISEIRIN dapat tumbuh kembali dengan baik (membawa kembali warna aslinya) atau sebaliknya.

Sakame Asagi – Kebalikan dari NARUMI ASAGI; Koi yang memiliki sisik putih dengan netting berwarna indigo.

Sandan – Tiga; SANDAN KOHAKU memiliki tiga pola HI.

Sankaku Hi – Pola HI berbentuk segitiga, digunakan terutama untuk menjelaskan HI di daerah ekor.

Sanke – Kependekan dari TAISHO SANSHOKU atau TAISHO SANKE. Jenis ini mempunyai pola KOHAKU dan pola hitam. Pada bagian kepala dan dibawah gurat sisi tidak boleh terdapat SUMI.

Sansai – Umur tiga tahun.

Sarasa – Istilah kuno untuk KOHAKU, kadang masih digunakan hingga sekarang.

Sashi – Kependekan dari SASHIKOMI. Istilah ini menunjukkan garis kabur antara sisi pola HI atau SUMI dengan SHIROJI. Warna merah muda kabur disebabkan oleh ujung sisik SHIROJI bertumpuk dengan awal dari sisik HI. Bila HI cukup berkualitas, maka HI akan menembus SHIROJI dan tampak sebagai garis merah muda disetiap sisi pola HI. Istilah SASHI hanya digunakan pada KIWA ke arah kepala dan tidak terdapat pada KIWA ke arah ekor. SASHI yang ideal lebarnya satu sisik. NIMAI ZASHI lebarnya 2 sisik dan SANMAI ZASHI lebarnya tiga sisik.

Sashikomi – sisik yang menumpuk ujung luar dari pola

Sashi zumi – Kependekan dari SASHIKOMI; SASHI tidak hanya terdapat pada HI tetapi juga pada SUMI. Istilah SASHI ZUMI menggambarkan garis kabur antara ujung SUMI dan SHIROJI. Warna kebiruan ini disebabkan oleh ujung dari sisik SHIROJI yang menumpuk awal dari sisik SUMI. SUMI menembus SHIROJI dan tampak sebagai garis kebiruan di ujung-ujung pola SUMI.

Seigyo – Koi yang sudah dewasa atau lebih dari 6 tahun.

Separation Method – Sebuah sistem penilaian untuk dua ekor Koi dengan cara membandingkan bagian-bagian yang sama dari keduanya. Bagian-bagian yang dibandingkan adalah:
Kepala – termasuk insang
Bahu – (bagian setelah kepala)
Punggung – (kadang bagian ini termasuk juga bahu) mulai dari bahu hingga ke bagian awal sirip punggung
Badan – bagian di bawah sirip punggung
Ekor – mulai dari setelah sirip punggung tetapi tidak termasuk sirip kaudal/ ekor
Kadang bagian badan adalah seluruh bagian tubuh Koi kecuali kepala dan ekor.

Seware – Membagi punggung; Pola HI yang sebagian besar berada di sisi badan Koi dan SHIROJI yang lebar di bagian punggung sehingga tampak seolah membelah punggung Koi.

Shiagari – Finish; Koi menjadi semakin cantik atau malah berkurang kecantikannya seiring waktu. Bila seekor Koi mencapai puncak kecantikannya dengan baik maka kita sebut Koi tersebut mempunyai SHIAGARI yang bagus.

Shibun – Kelemahan yang sangat kecil.

Shimegai – Menekan pertumbuhan; Sebuah proses pemeliharaan Koi dengan tujuan menekan pertumbuhan Koi agar tetap berukuran kecil. SHIMEGAI dilakukan dengan cara pemberian pakan yang sangat sedikit dan menempatkan pada kolam yang sempit agar pheromone yang menekan pertumbuhan dihasilkan.

Shimi – Noda; bintik hitam yang tidak diiinginkan; SHIMI berupa sebuah bintik hitam sedangkan JYAMI adalah beberapa bintik hitam yang berkelompok.

Shinsui – Air baru

Shiro – Putih

Shirobou – Koi putih; Kebanyakan burayak Koi putih polos dibuang tetapi seekor Koi bisa menjadi putih polos ketika berumur 2-3 tahun. Koi seperti ini disebut juga SHIRO MUJI.

Shirogoi – Koi putih.

Shiroji – Warna dasar putih

Shiro Muji – Koi putih polos bersisik; seekor KOHAKU yang kehilangan Hi-nya bisa menjadi SHIRO MUJI.

Shita Zumi – SUMI yang belum naik; SUMI ini masih berada di bawah permukaan SHIROJI. SHITA ZUMI bisa naik atau bahkan menghilang. KAGE ZUMI adalah SUMI yang mulai naik dan tampak seperti bayangan pada kulit.

Shitsu – Kualitas atau sifat dari kulit, termasuk kualitas SHIROJI, HI, SUMI dan lain-lain.

Shochikubai – AI-GOROMO metalik

Showa – Kependekan dari SHOWA SANSHOKU, Koi berwarna dasar hitam dengan pola merah dan putih. Nama ini berasal dari masa pengembangannya di Era Showa.

Showa Sumi – Pola hitam mirip loreng harimau pada bagian tubuh Koi termasuk bagian kepala. SHOWA SUMI juga terdapat pada UTSURI.

Shusui – ASAGI DOITSU; Koi berwarna dasar biru dengan warna merah di bagian perut dan sisi badan bagian atas, kepalanya putih bersih dengan deretan sisik hitam atau indigo di kedua sisi sirip punggung. Umumnya memiliki MOTOAKA dan Hi pada sirip punggungnya. Jenis ini dihasilkan dari perkimpoian Koi Doitsu Hitam dengan ASAGI. Orang yang pertama menghasilkan jenis ini adalah Kichigoro Akiyama di Tokyo pada tahun 1910.

Sokozumi – warna hitam yang terlihat kabur atau tipis

Sokusen – Gurat sisi; Istilah ini menunjukkan gurat sisi pada kedua bagian sisi Koi. Garis ini membagi dua Koi secara memanjang. Kita hanya dapat melihat pola Koi yang berada di atas SOKUSEN, kecuali kita melihat Koi dari pinggir misalnya Koi dalam akuarium. SOKUSEN ini berfungsi untuk menerima getaran berfrekuensi rendah dalam air.

Sora – Langit.

Soragoi – Koi berwarna Biru keabuan

Sumi – Hitam, melambangkan kekuatan; Kadang ditulis ZUMI bila digabungkan dengan kata lain.

Sumigiwa – Batasan Hitam; Garis batas antara pola hitam dengan warna lain.

Sumigoromo – Koi berwarna dasar putih dengan retikulasi hitam yang menumpuk pada pola merah.

Sumimono – Jenis yang memiliki SUMI seperti SANKE, SHOWA, KUMONRYU dan lain-lain

Suminagashi – Koi berwarna dasar hitam dengan retikulasi sisik berwarna putih

Susu Zumi – SUMI berkualitas rendah yang buram dan tanpa kilau, disebut juga NABE ZUMI; kebalikannya adalah URUSHI ZUMI
Kamus istilah koi part 5 ( alfabet T - U - W - Y - Z )


T ;

Taikei – Konformasi badan Koi

Taiko – Tinggi Koi dari puncak punggung hingga ke dasar perut. Dipercayai bahwa Koi yang mempunyai TAIKO yang besar dapat tumbuh menjadi jumbo, tentu ini harus didukung dengan faktor-faktor lain.

Taisho – Era pemerintahan di Jepang ketika TAISHO SANSHOKU (SANKE) pertama kali dikembangkan

Taisho Sanshoku – Nama lengkap dari SANKE atau TAISHO SANKE. Ketika sedang mengembangbiakkan jenis KOHAKU, tiba-tiba Koi dengan pigmen hitam muncul. Penilaian jenis ini sama dengan penilaian pada pola KOHAKU, kemudian semakin dikembangkan sehingga pola SUMI semakin lebar dan berkilau seperti yang terlihat pada SANKE dewasa ini.

Taki – air terjun.

Tancho – Koi dengan pola HI berbentuk bulat di kepala, mirip dengan bulatan merah pada bendera negara Jepang.

Taragoi – TARA artinya ‘bila’. Koi yang akan tumbuh menjadi sangat cantik ‘bila’ saja sebuah atau beberapa kondisi terpenuhi. Sebagai contoh, “ ‘Bila’ saja SUMI muncul di bagian ini pada SHIROJI, maka Koi ini akan menjadi SANKE yang sangat indah.” TARAGOI artinya hampir mirip dengan TATEGOI, tetapi lebih digunakan untuk menggambarkan Koi yang harus berubah agar bisa menjadi cantik. Seekor TARAGOI belum tentu TATEGOI, tetapi seekor TATEGOI adalah TARAGOI.

Tasukigake – Pola yang memotong punggung secara diagonal. Tidak bisa disebut TASUKIGAKE bila pola ini memotong punggung dan berbentuk garis lurus. Bila TASUKIGAKE ini tipis, maka bisa disebut HIMO ZUMI.

Tategoi – Koi yang akan menjadi luar biasa di kemudian hari. Koi ini belum mencapai puncak kecantikannya tetapi mempunyai masa depan yang menjanjikan bila dipelihara dengan baik.

Tate Hi – HI yang memanjang; Pola HI yang memanjang dimulai dari bagian mulut hingga ke ekor. Karena tidak terdapat MAKI, maka tampak mempunyai pola yang lemah.

Tate Zumi – SUMI yang memanjang; Pola SUMI yang memanjang sejajar dengan sirip punggung. SUMI cenderung berbentuk KURAGAKE, sangat sedikit SANKE dan SHOWA yang memiliki TATE ZUMI. TATE ZUMI yang lebar memberi kesan yang kuat pada pola, tidak seperti TATE HI yang malah memberi kesan lemah. TATE ZUMI yang tipis disebut juga HIMO ZUMI.

Teaka – Sirip pektoral/ dada yang memiliki HI. Kecuali untuk beberapa jenis seperti ASAGI, SHUSUI dan AKA HAJIRO, sirip pektoral harus putih bersih. Bila HI melebar hingga ke ujung sirip dada, maka dianggap kelemahan. Sedikit HI pada pangkal sirip pektoral disebut MOTOAKA.

Tebire – sirip pektoral/ dada

Tejima – SUMI yang berbentuk garis-garis atau setrip. Seringkali digunakan untuk menjelaskan sirip pektoral pada SANKE. Disebut juga HOUKI ZUMI. Dipercayai bahwa beberapa TEJIMA pada SANKE membuat pola di badan lebih stabil.

Teri – Kilau kulit; Koi memproduksi sekresi yang berupa lapisan lendir untuk melindungi kulitnya. Koi yang sehat memproduksi sekresi ini dalam jumlah yang banyak sehingga membuat tubuhnya tampak berkilau. Koi yang sakit hanya sedikit memproduksi sekresi ini sehingga tubuhnya tampak buram. Kilauan pada badan koi yang berasal dari lapisan lendir ini disebut TERI.

Tetsu magoi – nenek moyang yang menghasilkan keturunan SHOWA, CHAGOI dan OGON

Tezumi – Sumi pada sirip pektoral. SUMI bisa berada di bagian mana saja dari sirip, tetapi idealnya TEZUMI adalah sebagai MOTOGURO pada KUMONRYU, SHIRO UTSURI dan SHOWA. Beberapa jenis lain idealnya memiliki MOTOAKA dan selain dari itu (kecuali Koi satu warna) idealnya memiliki sirip pektoral yang bersih tanpa TEZUMI.

Tobi Hi – Sisik merah yang tidak seharusnya ada atau keluar dari pola, biasanya hanya berupa satu sisik. Ini adalah sebuah kelemahan. Tetapi pada kasus tertentu TOBI HI dapat memberi aksen pada pola. Istilah TOBI HI hanya digunakan pada jenis Koi bersisik, sedangkan untuk Koi jenis DOITSU, istilah yang digunakan adalah MUDAGOKE.

Toh Hi – Warna merah pada kepala

Tome Sumi – Akhir SUMI; TOME artinya ‘berhenti’. Pola SUMI yang berakhir di daerah ekor atau SUMI yang membentuk ODOME pada SANKE atau SHOWA. TOME SUMI sangat penting dan dianggap lebih bernilai dibandingkan HI pada ODOME.

Tora ogon – BEKKO kuning metalik

Tosai – Koi yang umurnya kurang dari satu tahun.

Tsubaki Sanke – AKA SANKE yang dihiasi dengan rantaian SUMI disepanjang tubuhnya.

Tsubo – Bagian yang kritis atau menentukan

Tsubo Zumi – SUMI yang muncul di bagian yang kritis sehingga mempengaruhi keseimbangan pola. TSUBO ZUMI dapat muncul pada SHIROJI.

Tsukitsuke – Pola HI yang memanjang pada kepala sampai menyentuh hidung. HI lebih sedikit dibandingkan MENKABURI atau ZUKINKABURI dimana HI menutupi seluruh bagian kepala.

Tsuya – cemerlang

U ;

Umebachi – Pola yang mirip bunga aprikot Jepang

Uroko kiwa – KIWA yang mengikuti bentuk sisik, LIHAT: MARUZOME

Urushi Zumi - SUMI yang terbaik; Menunjukkan kualitas SUMI yang terbaik yaitu SUMI yang berkilau dan hitam cemerlang. Kebalikannya adalah NABE ZUMI, SUSU ZUMI dan FUNA ZUMI.

Ushirogiwa – Sisi belakang

Utsuri РKoi berwarna dasar hitam dengan pola berwarna putih àdisebut SHIRO UTSURI; pola berwarna merah à disebut HI UTSURI dan KI UTSURI dengan pola berwarna kuning.

Utsurimono – Artinya ‘bayangan’; Koi berdasar hitam dan memiliki dua warna

W ;

Wabi – kedalaman kulit pada Koi bersisik

Wagoi – Keluarga ikan Emas yang bersisik penuh


Y ;

Yakko – HI pada pipi ASAGI.

Yamabuki Ogon – Koi kuning metalik, YAMABUKI artinya ‘mawar kuning cerah’

Yamato Nishiki – SANKE metalik.

Yogyo – ikan yang masih muda

Yondan – Empat; YONDAN KOHAKU mempunyai empat ‘step’ pola.

Yonsai – Usia empat tahun.

Yoroigoi – Koi dengan sisik-sisik besar diseluruh tubuhnya.

Yotsushiro – YOTSU artinya ‘empat’, SHIRO artinya ‘putih’. ‘Empat bagian putih’. Koi yang hanya memiliki warna putih di bagian hidung, kedua sirip pektoral dan sirip ekor. Sering terlihat pada keluarga KARASUGOI dan HIKARI MUJIMONO.

Z ;

Zubonhaki – Bila bagian belakang badan seluruhnya berwarna merah atau hitam

Zukinkaburi – Memakai kerudung; ZUKIN artinya ‘kerudung’, KABURI artinya ‘memakai’. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan Koi yang seluruh bagian kepalanya berwarna. Tidak terdapat SHIROJI pada pipi maupun rahang bagian bawahnya. Istilah lainnya adalah MENKABURI. Seluruh kepala berwarna merah, disebut AKA ZUKIN dan bila seluruhnya berwarna hitam, disebut KURO ZUKIN. Koi seperti ini kurang disukai.

Cari Artikel